Webinar Seri 4: Digital Writing Jurus Jitu Menulis Paper Terindeks Scopus
Kamis, 23 Jul 2020, 20:25:03 WIB - 254 View

Webinar Seri 4: Digital Writing  Jurus Jitu Menulis Paper Terindeks Scopus

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sampai dengan saat ini masih menjadikan Scopus sebagai ukuran reputasi intelektual. Pada dasarnya jurnal ilmiah adalah sarana komunikasi hasil telaah dan temuan-temuan ilmiah bidang-bidang keilmuan tertentu. Dalam hal ini Scopus merupakan lembaga pengindeks yang cukup selektif dalam mengindeks jurnal-jurnal ilmiah di kancah internasional. Hal ini tentu saja memacu para peneliti temasuk dosen untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya di jurnal-jurnal ilmiah yang terindeks Scopus.

Disisi lain komunikasi telaah dan temuan ilmiah pada dasarnya dapat dilakukan di jurnal ilmiah dan prosiding konferensi. Keduanya dibuat untuk tujuan ilmiah, yakni pengembangan ilmu pengetahuan. Tidak sembarang orang dapat memahami bahasa akademik yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Demikian halnya konferensi, seminar, ataupun simposium yang juga diselenggarakan sebagai ajang bertemu para akademisi untuk berbagi hasil telaah dan temuan ilmiah.

Jurnal ilmiah sendiri merupakan salah satu produk yang wajib dihasilkan oleh seorang peneliti, termasuk dosen. Namun dalam kenyataannya untuk membuat sebuah artikel yang berhasil diterbitkan di jurnal bukanlah hal yang mudah. Ketatnya persaingan untuk mendapatkan lisensi dari Scopus membuat dosen atau penulis jurnal harus benar-benar memperhatikan detail penelitian yang ditulis. Scopus sendiri adalah salah satu database (pusat data) sitasi atau literatur ilmiah yang dimiliki oleh penerbit terkemuka dunia, Elsevier. Scopus mulai diperkenalkan ke masyarakat luas pada tahun 2004. Scopus biasanya bersaing ketat dengan Web of Science (WOS) yang diterbitkan oleh Thomson Reuters yang juga menjadi pusat data terbesar di dunia.

Dengan bantuan internet, artikel yang dimuat pada jurnal terindeks Scopus dapat dibaca dan disitasi akademisi di dunia. Artikel yang disitasi berarti telah mengandung konten yang layak secara ilmiah sebagai sumber kebenaran pengembangan keilmuan. Dosen yang karya ilmiahnya banyak disitasi pun akan mendapatkan h-index tinggi sebagai bukti indikator pengakuan dunia akademik terhadap eksistensi dan kualitasnya. Berkaitan dengan hal tersebut Program Studi Agribisnis bekerjasama dengan Perhepi Komda Surakarta menyelenggarakan Webinar yang megusung tema "Digital Writing: Jurus Jitu Menulis Paper Terindeks Scopus”  dengan narasumber Dr. Jumintono Suwardi Joyo Sumarto yang merupakan Dosen Universiti Tunn Hussin Onn Malaysia, Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, dan owner Rumah Scopus.

Webinar ini dilaksanakan secara online melalui Zoom dan disiarkan secara langsung melalui Youtube. Kegiatan webinar berjalan dengan baik dan dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Pertanian UNS Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM, ASEAN Eng. Kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari narasumber tunggal yakni Dr. Jumintono Suwardi Joyo Sumarto. Pro dan kontra keberadaan Scopus telah terjadi sejak beberapa tahun belakangan. Namun demikian, pada dasarnya keberadaan Scopus dapat memberikan dampak positif terutama bagi dosen dan peneliti, dimana Scopus dapat mengukur kinerja yang telah dilakukan. Lebih lanjut, Scopus juga merupakan suatu anugerah, karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan terjadi atas dasar cikal bakal ilmu pengetahuan sebelumnya. Dengan adanya jurnal hasil-hasil penelitian yang terindeks Scopus maka hasil-hasil penelitian dapat disitasi oleh para akademisi diseluruh dunia untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu di era saat ini sangat relevan untuk mempelajari bagaimana tips agar hasil penelitian dapat terbit di jurnal internasional terindeks Scopus.


Video Terkait :